PRABUMULIH,Jagatrayanews.id– SMAN 2 Prabumulih kembali bikin gebrakan. Sekolah yang dikenal aktif di bidang sains dan lingkungan ini menggandeng KAGAMA, Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada, untuk mengenalkan ekosistem Antartika kepada siswa. Kegiatan ini digelar di Gedung Kesenian Rumah dinas Wali Kota Prabumulih, Senin 06 Agustus 2026, dan diikuti ratusan siswa dari berbagai jurusan.
Kolaborasi ini bukan sekadar seminar biasa. Tujuannya jelas: menumbuhkan rasa peduli generasi muda terhadap perubahan iklim dan kelestarian bumi, dimulai dari memahami “dapur dunia” yang ada di Kutub Selatan.
Belajar Langsung dari Ahli
Dalam kegiatan bertajuk _“Antartika dan Masa Depan Kita”_ tersebut, KAGAMA menghadirkan narasumber Gerry Utama alumni UGM yang pernah terlibat dalam ekspedisi riset ke Antartika. Mereka memaparkan bagaimana es di Antartika mencair, dampaknya ke kenaikan permukaan laut, hingga peran plankton kecil yang menjaga keseimbangan iklim global.
“Anak-anak Prabumulih harus tahu, apa yang terjadi di Antartika hari ini akan terasa sampai ke Sungai Ogan besok. Kalau es mencair, pesisir kita yang kena,” ujar salah satu pemateri dari KAGAMA di hadapan siswa.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Siswa antusias bertanya soal penelitian, kehidupan peneliti di stasiun Antartika, sampai bagaimana sampah plastik di Sumsel bisa sampai ke laut dan memengaruhi rantai makanan di sana.
Bukan Sekadar Teori, Ada Aksi
Kepala SMAN 2 Prabumulih Yusrianto, S. Pd,M.Pd mengatakan, kegiatan ini adalah bagian dari program sekolah adiwiyata dan penguatan profil pelajar Pancasila. Setelah seminar, siswa akan menjalankan proyek nyata: audit sampah sekolah, kampanye hemat energi, dan penanaman 1000 pohon di lingkungan sekolah.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya pintar, tapi juga punya empati pada bumi. KAGAMA hadir untuk memberi wawasan dan jejaring, agar siswa paham isu global tapi solusinya dimulai dari aksi lokal,” jelasnya.
Ketua KAGAMA wilayah Sumsel yang hadir dalam kegiatan itu juga mengapresiasi semangat SMAN 2. Ia menyebut generasi muda di daerah harus dilibatkan sejak awal dalam isu perubahan iklim, karena merekalah yang akan merasakan dampaknya 20-30 tahun ke depan.
Antusiasme Siswa
Salah satu siswa kelas XI, mengaku baru pertama kali tahu detail tentang Antartika.
“Ternyata kutub itu nggak jauh-jauh amat dampaknya. Kalau kita buang sampah sembarangan di sini, bisa ngaruh ke laut, ke ikan, terus ke kita lagi. Keren sih bisa belajar langsung dari kakak-kakak KAGAMA,” katanya.
Kegiatan ditutup dengan penandatanganan MoU antara SMAN 2 Prabumulih dan KAGAMA untuk program pembinaan sains, riset sederhana, dan pertukaran ilmu selama 1 tahun ke depan.
Dengan langkah ini, SMAN 2 Prabumulih berharap bisa mencetak generasi yang tidak hanya cerdas akademik, tapi juga punya kepedulian dan aksi nyata untuk menjaga bumi.
Karena masa depan bumi, dimulai dari kelas hari ini.
Pewarta : Fajar Jagatraya









